Moving in (part 1) Kerasnya pindah rumah di Belanda

[Tilburg, 2016] Berbahagialah kita hidup di Indonesia, (mungkin Jakarta pengecualian, tapi masih lebih mending) yang manusianya masih manusiawi. Selama hidup di luar negeri saya jarang komplain tentang sikap individualistik dari orang-orang di negara saya tinggal. Saya selalu bilang pada diri saya, “ya memang budaya mereka begitu. Beda dengan di Indonesia yang masih kental dengan semangat gotong royong, atau setidaknya dengan adegan-adegan basa-basi yang cukup mentally helpful.” Saya sedang pindahan ke apartemen baru, pertama kali merasakan pindahan ke tempat baru yang sama sekali belum ada furniturenya. I thought it was gonna be challenging and super fun to have my own styled apartment. It turned out to be tear jerker. Saya beli meja makan kayu, besar, berat. Pengantar barangnya keberatan untuk mengantar sampai apartmen saya karena mejanya nggak muat di lift. Akhirnya si meja ditinggal di depan lift. Dia bilang, harus buka skrup (apa namanya itu baut segedha-gedha gaban). Pergilah saya beli kunci Inggris, obeng dan segala perkakas. Dengan masih semangat. Sampai di rumah, saya langsung berusaha untuk buka skrup itu tadi. 15 menit. Belum gerak. Setengah jam. Baru 3 skrup dan itu pun salah. Satu jam. Saya nyerah dan memutuskan untuk naik kembali ke apartemen. Yang bikin saya gedheg, bingung, dan kesel ada selama sejam itu seliweran berapa PULUH ORANG lewat with no single “Hey”, “anything wrong?”, apalagi “Do you need help”. Most of them even didn’t dare to look at me, trying to avoid any eye contact with me who definitely seemed to be super struggling. Is this how modern society should live by? Then I’m not proud to be part of it. #Riphumanity #ignorance #atitsbest !!!

Advertisements