Media Appearance

“Pelajar Indonesia ini Sukses Meraih 10 Beasiswa hingga ke Eropa” – 10 January 2017

 

FeedMe.id, JakartaAbellia Anggi Wardani bisa dibilang salah satu contoh langka mahasiswi Indonesia. Kenapa langka? Abel, begitu dia biasa dipanggil, berhasil meraih setidaknya 10 beasiswa akademis sepanjang studinya. Dia meraih beasiswa sejak memasuki semester tiga di Program Studi Prancis, Universitas Indonesia pada 2008. Rupanya, Abel masih ‘kecanduan’ beasiswa hingga kini.

 

Saat ini dia tengah menempuh program studi doktor di Tilburg University, Belanda. “Studi S3 saya akan selesai sekitar tahun 2019,” ujar Abel kepada Feedy via email, Sabtu, 6 Januari 2017. Kini dia mengambil studi soal etnik dan konflik agama di Indonesia timur. Belum cukup? Abel masih akan melanjutkan studi post-doktoral. “Ataupun langsung menjadi praktisi di bidang terkait,” kata dia.

15966792_10211111231234432_1731228424_o

🙂

Abel memang sukses meraih #goals yang positif dan gak bablas ikut-ikutan #goals kekinian mulai dari mesra-mesraan di medsos sama pacar ataupun lomba banyak-banyakan punya pengikut di Instagram. Motivasi Abel untuk meraih beasiswa, mulanya sederhana aja Feedies. “Keinginan untuk mendapatkan beasiswa sebenarnya lebih ke arah kebutuhan. Kebutuhan untuk menunjang kehidupan sehari-hari sebagai anak rantau yang baru menginjakkan kaki di Jakarta ketika mulai kuliah.”

Motivasi itu perlahan bergeser seiring dengan tingkatan kuliahnya. Salah satunya karena Abel ingin kuliah ke luar negeri, terutama ke Prancis. Saking niatnya, dia menuliskan nama negara yang ia tuju untuk meraih beasiswa. Akhirnya, dia diterima oleh Universite d’Angers di Prancis pada 2011-2012 dengan tiga beasiswa sekaligus. Tapi, bukan berarti dia selalu bisa meraih beasiswa. “Saya ditolak empat kali,” kata Abel yang baru saja meluncurkan buku bertajuk ‘Meraih Mimpi dengan Beasiswa’ pertengahan tahun lalu.

Nah, daripada kamu ikut-ikutan khayal babu untuk jadi influencer di media sosial, gak ada salahnya kamu simak wawancara Abel berikut ini. Mana taukamu bisa dapet beasiswa juga dengan belajar dari pengalaman Abel, Feedies:

FeedMe.id, JakartaAbellia Anggi Wardani bisa dibilang salah satu contoh langka mahasiswi Indonesia. Kenapa langka? Abel, begitu dia biasa dipanggil, berhasil meraih setidaknya 10 beasiswa akademis sepanjang studinya. Dia meraih beasiswa sejak memasuki semester tiga di Program Studi Prancis, Universitas Indonesia pada 2008. Rupanya, Abel masih ‘kecanduan’ beasiswa hingga kini.

Saat ini dia tengah menempuh program studi doktor di Tilburg University, Belanda. “Studi S3 saya akan selesai sekitar tahun 2019,” ujar Abel kepada Feedy via email, Sabtu, 6 Januari 2017. Kini dia mengambil studi soal etnik dan konflik agama di Indonesia timur. Belum cukup? Abel masih akan melanjutkan studi post-doktoral. “Ataupun langsung menjadi praktisi di bidang terkait,” kata dia.

15966792_10211111231234432_1731228424_o

Abel memang sukses meraih #goals yang positif dan gak bablas ikut-ikutan #goals kekinian mulai dari mesra-mesraan di medsos sama pacar ataupun lomba banyak-banyakan punya pengikut di Instagram. Motivasi Abel untuk meraih beasiswa, mulanya sederhana aja Feedies. “Keinginan untuk mendapatkan beasiswa sebenarnya lebih ke arah kebutuhan. Kebutuhan untuk menunjang kehidupan sehari-hari sebagai anak rantau yang baru menginjakkan kaki di Jakarta ketika mulai kuliah.”

Motivasi itu perlahan bergeser seiring dengan tingkatan kuliahnya. Salah satunya karena Abel ingin kuliah ke luar negeri, terutama ke Prancis. Saking niatnya, dia menuliskan nama negara yang ia tuju untuk meraih beasiswa. Akhirnya, dia diterima oleh Universite d’Angers di Prancis pada 2011-2012 dengan tiga beasiswa sekaligus. Tapi, bukan berarti dia selalu bisa meraih beasiswa. “Saya ditolak empat kali,” kata Abel yang baru saja meluncurkan buku bertajuk ‘Meraih Mimpi dengan Beasiswa’ pertengahan tahun lalu.

Nah, daripada kamu ikut-ikutan khayal babu untuk jadi influencer di media sosial, gak ada salahnya kamu simak wawancara Abel berikut ini. Mana taukamu bisa dapet beasiswa juga dengan belajar dari pengalaman Abel, Feedies:

15943115_10211111231314434_1615676374_o

Bisa diceritakan kapan sih tepatnya pertama kali Abel dapat beasiswa dan berapa lama studinya waktu itu ditempuh?

Pertama kali saya dapat beasiswa adalah ketika semester tiga di jenjang S1 di Universitas Indonesia, tepatnya tahun 2008. Nama beasiswanya adalah Pengembangan Potensi Akademik atau biasa disingkat dengan PPA. Sedangkan beasiswa ke luar negeri pertama saya adalah untuk menempuh program Double Degree di Université d’Angers di Prancis tahun 2011-2012.

Saya mendapatkan tiga beasiswa sekaligus untuk pergi ke Prancis pada saat itu, yaitu Beasiswa Unggulan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang mencakup dana untuk kebutuhan sehari-hari; Bourse du Gouvernement Français (BGF) untuk visa, asuransi kesehatan, dan biaya administrasi kuliah; serta yang terakhir adalah Bantuan Keberangkatan Ke Luar Negeri dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk membeli tiket pesawat.

Pernah terpikir kalau studi kamu gak bisa selesai saat menempuh pendidikan dengan beasiswa?

Pernah terpikir, terutama ketika saya kuliah di Prancis. Saya dulu ingat itu kalau saya terlalu excited berada di luar negeri pertama kali. Saya jalan-jalan ke banyak kota dan negara di luar Prancis, hingga kadang harus belajar (atau tidak belajar) selama perjalanan.

Karena kurangnya efforts yang saya berikan kepada kuliah saya pada saat itu, akhirnya saya harus puas mendapatkan nilai-nilai yang pas-pasan. Saya pun mulai panik jika tidak lulus dan harus mengulang mata kuliah, karena artinya saya harus extend di sana dengan biaya sendiri.

Berapa jarak beasiswa yang pertama dengan beasiswa berikutnya? Bisa diceritakan secara singkat?

Kalau beasiswa sewaktu S1 jaraknya tergantung dari periode beasiswanya, misalnya untuk beasiswa PPA, durasinya adalah satu tahun dengan pemberian dana dibagi dua periode, yaitu setiap akhir semester. Tiap tahun, saya mendaftar beasiswa tersebut. Karena fleksibilitasnya, saya diperbolehkan mendaftar beasiswa yang lain bersamaan. Sehingga di tahun 2009, saya mendaftar beasiswa Supersemar, dan kebetulan lolos.

Sedangkan untuk beasiswa ke luar negeri, jaraknya sekitar 1 sampai 1-5 tahun, biasanya waktu tersebut saya gunakan untuk mempersiapkan dokumen pendaftaran universitas ataupun pendaftaran beasiswanya sendiri.

Sebelum meraih beasiswa, pernah gak Abel meresolusikan itu secara khusus? Atau bahkan mungkin sampai menuliskan keinginan itu?

Keinginan untuk mendapatkan beasiswa sebenarnya lebih ke arah kebutuhan. Kebutuhan untuk menunjang kehidupan sehari-hari sebagai anak rantau yang baru menginjakkan kaki di Jakarta ketika mulai kuliah. Latar belakang saya untuk mendaftar beasiswa pun kemudian terus bergeser ketika saya mulai menempuh semester-semester tinggi.

Beasiswa menjadi sebuah pintu untuk membuka kesempatan mengembangkan diri yaitu dengan misalnya kuliah di luar negeri. Jika spesifik menulis nama beasiswa yang ingin didapat, sepertinya tidak pernah, tapi yang saya tulis adalah negara tujuan impian saya untuk berkuliah.

Gimana sih kiat-kita Abel untuk bisa meraih beasiswa? Kok bisa meraih 10 beasiswa?

Persistensi, pantang menyerah, mencari informasi sebanyak mungkin, dan berani untuk apply.

Belajar terus, apa gak bosen?

Justru biar nggak bosen, saya belajar. Karena saya orangnya susah untuk hanya diam di kantor melakukan pekerjaan di meja dan monoton, menjalani rutinitas yang sama setiap harinya.

Sedangkan dengan melanjutkan kuliah, saya menambah wawasan, menambah ilmu, bertemu banyak orang dari berbagai latar belakang. Saya bisa jalan-jalan, memperluas pemahaman terhadap kehidupan dan masyarakat yang ada di luar comfort zone kita.

Tapi iya sih, kadang-kadang bosen juga belajar. Haha

Setelah meraih 10 beasiswa, apalagi yang ingin kamu raih?

Sebenarnya beasiswa bukan merupakan “tujuan” bagi saya, beasiswa lebih ke arah “alat” untuk mencapai tujuan saya yang sebenarnya. Saat ini saya sedang menyelesaikan S3 saya di Tilburg University, Belanda mengambil isu tentang konflik etnik dan agama di Indonesia Timur.

Impian dan capaian yang ingin saya wujudkan dalam waktu dengan mungkin adalah menyelesaikan apa yang sudah saya mulai ini. Ke depannya, mungkin saya akan mempertimbangkan untuk lanjut post-doc, ataupun langsung menjadi practitioner bidang konflik baik di Indonesia maupun luar negeri.

Menurut kamu, negara mana sih yang paling gampang memberikan beasiswa dan mana yang justru paling sulit?

Di buku saya, sudah ada daftar negara-negara di dunia yang banyak memberikan peluang beasiswa bagi mahasiswa asing ataupun khususnya mahasiswa Indonesia.

Dari pengalaman saya, dan dari obrolan bersama alumni dan pelajar rantau, ada beberapa negara yang memberikan porsi lebih kepada mahasiswa Indonesia seperti Belanda, Australia, Inggris, dan Amerika Serikat

Pernah ditolak saat mengajukan aplikasi beasiswa? Berapa kali kamu ditolak?

Pernah dong! Saya ditolak empat kali. Tetapi yang benar-benar ditolak adalah dua kali sedangkan dua yang lain, saya mendapat pemberitahuan bahwa saya tidak lolos, tetapi beberapa hari atau minggu kemudian, tiba-tiba ada keajaiban dan saya mendapat kesempatan lolos beasiswa tersebut. Dua beasiswa itu dari Orange Tulip Scholarsip dan dari LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan).

Iya, saya sempat ditolak LPDP. Sedangkan, dua beasiswa yang saya benar-benar ditolak adalah dari Beasiswa Unggulan untuk menempuh Master di Belanda dan Beasiswa Summer School di Oslo.

Kapan Abel kembali ke Tanah Air? Apa yang akan dikerjakan kalau kembali dan bekerja di Indonesia?

Program S3 saya akan selesai sekitar tahun 2019. Selain karena LPDP mewajibkan para alumninya untuk kembali ke Tanah Air dan mengabdikan ilmunya di Indonesia, saya secara pribadi memang berkeinginan kembali.

Kemungkinan saya akan kembali ke Universitas Indonesia, sebagai pengajar dan melanjutkan karir saya sebagai part-time consultant untuk institusi yang berhubungan dengan konflik. 

Saat ini, apa yang sedang Abel kerjakan di Eropa?

Secara formal dan legalnya, saya adalah mahasiswa S3. Sebagai mahasiswa, saya banyak menghabiskan waktu untuk membaca dan menulis. Bertemu para promotor setiap bulannya dan mengikuti kongres atau konferensi untuk menambah link, memperluas networking, dan seterusnya.

Saya juga sedang membangun www.kelasbahasa.com bersama beberapa teman di Indonesia. Kelasbahasa merupakan platform untuk belajar Bahasa Inggris, Prancis, dan Indonesia melalui messengers. Bisa Whatsapp, BBM, LINE, ataupun Skype. Yang berbeda dari Kelasbahasa adalah keuntungan yang didapat akan disalurkan kepada guru-guru di daearh 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) Indonesia. Selain itu, saya juga membuka catering makanan khas Indonesia kecil-kecilan di Belanda.

Sulit gak sih hidup di negeri orang? Menurut kamu, apa tantangan terbesarnya?

Awalnya memang terlihat sulit, karena di awal akan terlihat semua perbedaan antara Indonesia dan negara tempat tinggal. Apalagi kalau berhubungan dengan cuaca, datangnya musim gugur yang menandai mulainya musim galau, angin, hujan, dan dingin.

Selain itu, jika hidup di Negara yang jarang ada orang Indonesianya, akan lebih sulit untuk menemukan bahan makanan Indonesia atau Asia. Nah, kita semua tahu bahwa makanan adalah salah satu hal paling esensial bagi orang Indonesia.

Kalau tantangan akademik akan lebih pada perbedaan sistem pengajaran dan pemakaian bahasa lain selain Bahasa Indonesia.

Saat ini, ada banyak banget pelajar Indonesia yang belajar di luar negeri, dan situasinya bisa dibilang sangat berbeda dengan dulu, apalagi pemerintah juga gencar menawarkan beasiswa, apa sih yang jadi tanggung jawab paling besar untuk mereka yang menerima beasiswa?

Belajar, membawa nama baik Indonesia jika bisa mengharumkan nama Indonesia, dan kembali ke Indonesia untuk menyebarkan ilmunya.

Bisakah diceritakan awal mula Abel menulis buku ‘Meraih Mimpi dengan Beasiswa’? Kenapa tertarik menulis?

Saya menulis buku “Meraih Mimpi dengan Beasiswa” sejak tahun 2015, butuh waktu setahun hingga buku tersebut terbit. Saya banyak mendapat pertanyaan dari teman, kenalan, adik angkatan, sampai orang yang saya tidak kenal, tentang bagaimana caranya mendapat beasiswa.

Dari pertanyaan-pertanyaan itu, saya memiliki niat untuk merangkum semua step yang sudah saya lakukan untuk mendapatkan beasiswa agar orang bisa dengan mudah merujuk ke buku tersebut. Dan ketika saya ditawari oleh sebuah penerbit untuk menerbitkan buku tentang beasiswa, saya pun langsung mengiyakan dengan semangat.

Dengan buku ini, saya ingin lebih banyak lagi putra bangsa Indonesia yang bisa mencapai mimpinya untuk kuliah di luar dan dalam negeri tanpa perlu memikirkan biayanya sebagai sebuah ganjalan bagi mereka. Satu pesan terakhir untuk  generasi muda, “Saya bisa (mendapat 10 beasiswa), karena saya berani apply.

Gimana Feedies? Daripada kamu gagal jadi Selebgram, YouTuber, atau Influencer, mendingan kamu kuliah lagi untuk nambah pengalaman hidup… 🙂

http://www.feedme.id/viral/pelajar-10-beasiswa-eropa/2/

Advertisements

Moving in (part 1) Kerasnya pindah rumah di Belanda

[Tilburg, 2016] Berbahagialah kita hidup di Indonesia, (mungkin Jakarta pengecualian, tapi masih lebih mending) yang manusianya masih manusiawi. Selama hidup di luar negeri saya jarang komplain tentang sikap individualistik dari orang-orang di negara saya tinggal. Saya selalu bilang pada diri saya, “ya memang budaya mereka begitu. Beda dengan di Indonesia yang masih kental dengan semangat gotong royong, atau setidaknya dengan adegan-adegan basa-basi yang cukup mentally helpful.” Saya sedang pindahan ke apartemen baru, pertama kali merasakan pindahan ke tempat baru yang sama sekali belum ada furniturenya. I thought it was gonna be challenging and super fun to have my own styled apartment. It turned out to be tear jerker. Saya beli meja makan kayu, besar, berat. Pengantar barangnya keberatan untuk mengantar sampai apartmen saya karena mejanya nggak muat di lift. Akhirnya si meja ditinggal di depan lift. Dia bilang, harus buka skrup (apa namanya itu baut segedha-gedha gaban). Pergilah saya beli kunci Inggris, obeng dan segala perkakas. Dengan masih semangat. Sampai di rumah, saya langsung berusaha untuk buka skrup itu tadi. 15 menit. Belum gerak. Setengah jam. Baru 3 skrup dan itu pun salah. Satu jam. Saya nyerah dan memutuskan untuk naik kembali ke apartemen. Yang bikin saya gedheg, bingung, dan kesel ada selama sejam itu seliweran berapa PULUH ORANG lewat with no single “Hey”, “anything wrong?”, apalagi “Do you need help”. Most of them even didn’t dare to look at me, trying to avoid any eye contact with me who definitely seemed to be super struggling. Is this how modern society should live by? Then I’m not proud to be part of it. #Riphumanity #ignorance #atitsbest !!!

My first exam!

[Tilburg Uni] As a Graduate student in humanities, I know that some will question what I actually do and study for my exams. Well, it is true that we don’t deal with econometrics, figures, formulas, maths, statistics and stuffs. However, that doesn’t make it seems easier to deal with. No! The exam will consist of 4 questions, each question will have 4 sub-questions, which simply means there will be 16 questions of 2-paragraph-minimum-argumentative answers. As the basis of the exam, we are obliged to be really familiar with 11 scientific articles in which there are more than 30 concepts in total. Memorizing 30 concepts is still due-able, but relating and opposing each of them in a specific case of study during the exam is…… another thing.

20131216-150043.jpg

Welcome to Tilburg

[studying] *I should say upfront that I am here, of course, for studying. No. No traveling, are crazy or something. Well, hello from Tilbrueih! The first Dutch word I learn to pronounce correctly was “Schiphol”. Yeah listed on the “101 guide to not get lost in the Netherlands (which is you simply won’t)”. So, it’s [shrchreip-hol]. One euro, please? Anyway, this is the view at almost 6.30 pm overlooking my window pane. Safely arrived, everybody! 🙂

20130828-183602.jpg

Then off we go! Hey the Netherlands!

Why the Netherlands?

We’ll start with this one million-dollar question. Sebenarnya, keinginan untuk ke Belanda, belajar di sana sudah sangat lama berada di alam bawah sadar saya. Hari ini, ketika saya harus berangkat ke Belanda, saya mulai melihat kembali potongan-potongan puzzle yang mulai terpecahkan.

Tahun 2007, atau sekitar 6 tahun yang lalu saya sempat ngefans dengan Rebecca Reijkman. Hal ini berawal dari karena saya memang suka suara dan lagu dia, di tambah, dulu itu sempat ada acara di salah satu stasiun televisi dengan dia sebagai tamunya. Kalau saya tidak salah, “Sehari bersama Rebecca”. Dari situ, saya sangat suka gaya dia yang cantik tapi nggak merasa bahwa dia cantik. Apa adanya, humble, friendly, dan menyenangkan. Salah satu kepingan yang saya maksud adalah ketika dia berbicara bahasa Indonesia dengan aksen bahasa Belanda dan Inggris dia. Ingat, bukan lebay seperti Cinta La*ura ya. Ini natural. Dan ya. Sudahlah. Kemudian saya dalam hati mulai tertarik.

Tahun 2010, saya ingat dulu itu masih semester 5 atau 6. Saat ketika keinginan saya ke luar negeri sangatlah kuat. Waktu itu ada beberapa pilihan yang mungkin bisa saya daftar selain pastinya Prancis. Kemudian entah kenapa, saya menulis nama “Belanda” di mading saya di kamar. “2012, S2 à la France/ Belanda” begitu bunyinya. Dan alhamdulillah terkabul.

Tahun 2008, saya bertemu dengan salah seorang teman di asrama mahasiswa Universitas Indonesia. Dia anak S1 internasional FE. Suatu hari, kami bersama teman-teman sedang ngobrol di kantin dan akhirnya muncul nama “Tilburg”. Saya ingat banget dulu itu saya dan teman-teman salah mengucapkan nama kota ini kemudian dibetulkan oleh teman saya itu. Dari situ, nama Tilburg mulai muncul dan mengakar. Kemudian Belanda pun tak lagi general, ia menjadi lebih spesifik, Tilburg.

Ditambah lagi, ada salah seorang teman saya, bernama Febriana Chynthia Dewi yang entah secara sadar atau tidak sadar membuat saya juga tertarik dengan Belanda. Karena dia sangat ingin ke Belanda untuk kuliah atau sekedar main ke sana. Dari tiap kali dia excited tentang Belanda, akhirnya perasaan itu menular ke saya. Dan ya, saya pun di alam bawah sadar merasa ingin ke Belanda.

Kalau mau disimpulkan, God’s winks atau isyarat-isyarat Tuhan itu ada, dimana-mana. Tinggal kita mau melihat lebih dalam dari setiap situasi dan mengambil benang merahnya atau membiarkannya seakan tidak peduli. Dan dari sini pula saya belajar bahwa memang alam bawah sadar kita ikut berperan penting dalam setiap keputusan yang kita hadapi di dunia nyata.

Srengseng Sawah, 27 Agustus 2013