Consultant for hotel development

Apparently someone truly paid attention when I said “one of my biggest dreams is to run (my own) a hotel.” 🌷.

.

Landing a job as consultant for hotel/hostel development for the first time. .

.

.

I previously worked in two different hotels, in Indonesia and France. Although it was for a very short period of time, but I did (somehow) enjoy it. Maybe it was because I am a keen observer, that I love to know how things work, how people do what they do and what people think they do when they do what they do, so yes during those two short periods I did earn a handful of knowledge on the hotel management system and some bitter experiences along the way, of course. .

.

.

Subsequently, I love to stay over in hotels or hostels in various cities or countries just to understand their uniqueness, and the meanings behind every little detail of its decoration or simply why this wooden table is paired with these colorful chairs? Or why the lobby is on the second floor? .

.

.

And yesterday’s visit marked the first time for me to make use of my knowledge as Bachelor of Art in Tourism Management in a more professional way, incorporating past trends to current tourist’s preferences. Are people still fond with taking selfies in front of tall buildings, statues, monuments or anything grandiose anymore? Or do they prefer to have a flat façade, parallel, close to them yet attractive backgrounds, instead? Why the sense of closeness to certain objects, the importance of touching, is crucial when it comes to attract people nowadays?

.

See how messy my life is, my dissertation is on conflict society but my interest is pretty much on everything else but my research topic. I know. 🙆 this long caption is meant to show you that, you can be whatever you want to be, simply by maintaining your interests and staying curious. ❤️

Puasa di Belanda (18-19 jam)

Hari ini adalah hari pertama puasa di Belanda disambut dengan suhu 31-35 derajat celcius di siang bolong yang terik. Sungguh nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan. 

Panas. Gerah. 
Kami di sini, berpuasa selama kurang lebih 18-19 jam. Kenapa bisa beda? Tergantung mazhab yang dianut sebenarnya. Ada yang mulai dari jam 3 pagi, ada yang jam 4. Saya sendiri mengikuti yang puasa dari jam 4 pagi. Bismillah ya. 
Sebenarnya ini bukan kali pertama saya puasa di rantau, ataupun puasa di luar negeri. Puasa di rantau pertama saya adalah ketika saya kuliah S1 di UI. Pertama kali merasakan puasa jauh dari rumah, dari keluarga, menyiapkan sahur sendiri, memilih dan menentukan menu buka puasa sendiri. Jujur, berat juga dulu rasanya. Ditambah adaptasi dari anak kampung ke Jakarta (well, Depok sebenernya bukan Jakarta sih ya). Coba anggap aja seperti itu. Haha. Jadilah sering galau sendiri kalau malam, atau kalau sahur. Tapi untungnya, dulu saya tinggal di asrama UI, di mana lorong saya ada piket untuk membeli makan sahur bergantian. Dan suasana akrab kekeluargaan pun sangat terasa. Terima kasih teman-teman gedung F2 lantai 1! 

Kemudian sejak saat itu saya sering puasa di rantau, waktu S1, kemudian lanjut double degree di Prancis, kemudian kuliah S2 di Belanda, kemudian S3 di Belanda. 
Pengalaman pertama kali puasa di luar negeri adalah ketika saya kuliah di Prancis. Tahun 2012 yang lalu. Waktu itu kebetulan saya sedang magang di suatu daerah di Prancis bagian Utara, namanya Grand-camp Maisy, daerah Normandy/Normandie. Daerahnya sepi, kebanyakan penduduknya adalah lansia, turis ada beberapa yang datang karena daerah ini termasuk daerah yang cukup bersejarah bagi orang-orang Eropa terutama berkaitan dengan Perang Dunia kedua. Ayo jangan malas coba di Google sendiri. Atau, atau kalian bisa tonton film Saving Private Ryan. Nah, settingnya di situ. Hehehe.
Jadi dulu itu saya ingat kalau saya harus puasa sambil kerja, fyuh, kerja di bidang hospitality pula, di sebuah apartemen untuk liburan. Saya menjadi asisten direktur slash resepsionis slash cleaning lady slash tukang maintenance. Harusnya sih nggak boleh begitu yah karena di kontrak, jobdesc saya adalah asisten direktur. Tapi namanya juga orang Indonesia, atau mungkin lebih karena keturunan Jawa, jadi ya saya iya-iyain aja disuruh apa aja. Ya gitu. Tapi sebenarnya saya nggak pernah mempermasalahkan itu sih, saya selalu anggap semua hal itu adalah proses belajar. #sokbijak #iyah
Nah, karena jobdesc saya yang beragam itu, jadi cobaan tersendiri untuk menjalani puasa di tengah musim panas. Ketika jadi resepsionis, saya harus tetap menjaga sikap selalu ramah dan baik terhadap tamu. Setelah kerja kadang saya harus belanja di supermarket sebelum masak, kemudian tentunya masak sendiri, dan makan pun sendiri. Mungkin kalian yang belum pernah ke luar negeri selalu punya imaji bahwa hidup di luar negeri itu menyenangkan, indah, seru, dll seakan semua seindah postingan instagram. Nope. Yang begini-begini jarang banget kalian tau karena nggak semua orang share tentang kegalauan mereka. Eh kami. 

Begitu pula ketika saya harus puasa di Belanda ketika S2, tahun 2014 dan sekarang S3, 2016 dan 2017. Tetap nano nano rasanya. Tapi mungkin saya sudah naik kelas, jadi lebih ke “menerima” situasi dan beradaptasi sebisanya dan tetap bersyukur dengan pencapaian dan fase-fase yang sudah saya lalui hingga sampai di sini. Terutama di Belanda banyak sekali orang Indonesia dan kami pun sering berkumpul, masak bareng, ngobrol-ngobrol, piknik dan melakukan aktivitas lain bersama. Menjadikan kami keluarga dadakan yang dekat. Sehingga perasaan jauh dari keluarga pun tak terlalu membayangi dan menjadikan alasan untuk galau. 

Hari ini, tanggal 27 Mei 2017, pertama kali saya masak besar di saat menjalankan ibadah puasa. Sebelumnya tidak pernah terpikir apakah saya akan mampu untuk melakukannya, membayangkan puasa 18 jam di suhu 35 derajat saja sudah bergidik, apalagi harus masak untuk 11 orang? Masak dengan menu yang tingkat kerumitannya pun lumayan. Untuk kalian yang berpuasa, pasti tau kan beratnya hari pertama, terutama di jam-jam kritis setelah dzuhur. Huft. 

Dulu saya selalu bertanya-tanya, kok bisa ya mamah saya kuat masak untuk kami semua di hari pertama puasa, sedangkan saya hanya mampu gegoleran di kasur sambil dengerin lagu ataupun baca buku-buku ringan. 

Dan baru kemarin saya rasakan. Iya bisa. Dan iya. Saya nggak merasa berat untuk masak sambil menahan lapar dan tetap berpuasa, 18 jam. Aneh ya? 

Mungkin ini berhubungan erat dengan kecintaan saya terhadap memasak beberapa tahun ini. Memasak membuat saya tenang, membuat saya bahagia, melatih otak saya bekerja, saya menjadi sangat fokus, badan saya pun terus bergerak. Saya lelah, pastinya, tapi memasak tidak melelahkan. If you get what I mean. 

Dari situ saya pun ingat banyak sekali kutipan yang mengatakan: “love your job and you will never work a day.” 

Ini adalah menu kami kemarin:

1. Nasi bakar ayam kemangi

2. Kolak pisang + labu kuning + ubi jalar + kolang kaling (yeay kolang kaling! Seharga satu kilo ayam)

3. Mendoan

4. Baklava (dari Mas Andrie)

5. Bubur ketan hitam


Dan inilah teman-teman yang kemarin berbuka puasa bersama:

Aiyubi, Laduma, Mas Andrie, Vicky, Fadra, Bli Putra, Sean Putra, Kevin, Jecky, dan Nancy. 

Semoga lancar puasanya kawans dan sukses selalu! 

Tilburg,

28 Mei 2017

A lucky Muadzin

[Mostar, Bosna i Hercegovina, 2017] inside of a mosque dates back to 16th century in Mostar. Look at its mihrab and minbar, beautifully designed, painted, and sculpted. And from its minaret, your eyes will be indulged with one of the most pittoresque landscapes you could possibly imagine, bird’s-eye view of the Stari Most, the famous Ottoman bridge. I’m wondering, the muadzin of this mosque must have been very lucky to have it as daily job, 5 times a day calling on people to pray from its minaret. Count your blessings. 🌷

Carnaval Parade in Tilburg, the Netherlands. 

[Tilburg, 2017] Carnaval day has always been the best day during my stay in the Netherlands. The parade indulges the act of “see and be seen”, the term that most Parisians would refer to “be, then exist” in cafés. Yet, the Dutch operationalize this idea in a somewhat altered way, while it might not come as a surprise since both societies share completely opposite views towards the ideal way to lead their lives. Dutch as being modest and practical, whereas such adjectives are irrelevant to depict Parisians’ mode-de-vie.  .

(I am refraining myself from comparing the Dutch to the Parisians, even though, it might simply fall into some worldly known preconceived notions to Parisians). 

.

The Dutch also have a deep rooted cultural value that is read “Doe maar gewoon, dan doe je al gek genoeg.” or translated as “just act normal, that’s already crazy enough.” They, as far as I know, are those who tend to keep everything else on the down-low, but, obviously not during the carnaval parade. This event, that is only celebrated in the southern part of the Netherlands, was initially a religious celebration, but as the Dutch becoming less and less identifying themselves to any particular religious identity, this festivity saw a mere shift from its origin. It is now seen as a sort of an annual tradition where people party all day and night long for at least 4 days. You read that right, 4 days in a row. Among any other parades I have participated in, the Dutch parade is different. It allows the audience to take part in the performance, they are not passive audience, instead, they are the performer themselves, and hand in hand with the parade actors are responsible to build an ambiance full of happiness, a festive world, a please-today-I’m-a-cow-and-you-gotta-deal-with-that day. The day where you take the train and see carrot sit next to you, where supermarket is full of living animals buying stuffs, where frogs are riding bike, etc. As a researcher, I found the carnaval day and the parade serve as ‘a field’ where socio-cultural practice is being produced, and it’s always exciting to witness how a social concept eventually works in a real-world situation. #laventuregrams

Media Appearance

“Pelajar Indonesia ini Sukses Meraih 10 Beasiswa hingga ke Eropa” – 10 January 2017

 

FeedMe.id, JakartaAbellia Anggi Wardani bisa dibilang salah satu contoh langka mahasiswi Indonesia. Kenapa langka? Abel, begitu dia biasa dipanggil, berhasil meraih setidaknya 10 beasiswa akademis sepanjang studinya. Dia meraih beasiswa sejak memasuki semester tiga di Program Studi Prancis, Universitas Indonesia pada 2008. Rupanya, Abel masih ‘kecanduan’ beasiswa hingga kini.

 

Saat ini dia tengah menempuh program studi doktor di Tilburg University, Belanda. “Studi S3 saya akan selesai sekitar tahun 2019,” ujar Abel kepada Feedy via email, Sabtu, 6 Januari 2017. Kini dia mengambil studi soal etnik dan konflik agama di Indonesia timur. Belum cukup? Abel masih akan melanjutkan studi post-doktoral. “Ataupun langsung menjadi praktisi di bidang terkait,” kata dia.

15966792_10211111231234432_1731228424_o

🙂

Abel memang sukses meraih #goals yang positif dan gak bablas ikut-ikutan #goals kekinian mulai dari mesra-mesraan di medsos sama pacar ataupun lomba banyak-banyakan punya pengikut di Instagram. Motivasi Abel untuk meraih beasiswa, mulanya sederhana aja Feedies. “Keinginan untuk mendapatkan beasiswa sebenarnya lebih ke arah kebutuhan. Kebutuhan untuk menunjang kehidupan sehari-hari sebagai anak rantau yang baru menginjakkan kaki di Jakarta ketika mulai kuliah.”

Motivasi itu perlahan bergeser seiring dengan tingkatan kuliahnya. Salah satunya karena Abel ingin kuliah ke luar negeri, terutama ke Prancis. Saking niatnya, dia menuliskan nama negara yang ia tuju untuk meraih beasiswa. Akhirnya, dia diterima oleh Universite d’Angers di Prancis pada 2011-2012 dengan tiga beasiswa sekaligus. Tapi, bukan berarti dia selalu bisa meraih beasiswa. “Saya ditolak empat kali,” kata Abel yang baru saja meluncurkan buku bertajuk ‘Meraih Mimpi dengan Beasiswa’ pertengahan tahun lalu.

Nah, daripada kamu ikut-ikutan khayal babu untuk jadi influencer di media sosial, gak ada salahnya kamu simak wawancara Abel berikut ini. Mana taukamu bisa dapet beasiswa juga dengan belajar dari pengalaman Abel, Feedies:

FeedMe.id, JakartaAbellia Anggi Wardani bisa dibilang salah satu contoh langka mahasiswi Indonesia. Kenapa langka? Abel, begitu dia biasa dipanggil, berhasil meraih setidaknya 10 beasiswa akademis sepanjang studinya. Dia meraih beasiswa sejak memasuki semester tiga di Program Studi Prancis, Universitas Indonesia pada 2008. Rupanya, Abel masih ‘kecanduan’ beasiswa hingga kini.

Saat ini dia tengah menempuh program studi doktor di Tilburg University, Belanda. “Studi S3 saya akan selesai sekitar tahun 2019,” ujar Abel kepada Feedy via email, Sabtu, 6 Januari 2017. Kini dia mengambil studi soal etnik dan konflik agama di Indonesia timur. Belum cukup? Abel masih akan melanjutkan studi post-doktoral. “Ataupun langsung menjadi praktisi di bidang terkait,” kata dia.

15966792_10211111231234432_1731228424_o

Abel memang sukses meraih #goals yang positif dan gak bablas ikut-ikutan #goals kekinian mulai dari mesra-mesraan di medsos sama pacar ataupun lomba banyak-banyakan punya pengikut di Instagram. Motivasi Abel untuk meraih beasiswa, mulanya sederhana aja Feedies. “Keinginan untuk mendapatkan beasiswa sebenarnya lebih ke arah kebutuhan. Kebutuhan untuk menunjang kehidupan sehari-hari sebagai anak rantau yang baru menginjakkan kaki di Jakarta ketika mulai kuliah.”

Motivasi itu perlahan bergeser seiring dengan tingkatan kuliahnya. Salah satunya karena Abel ingin kuliah ke luar negeri, terutama ke Prancis. Saking niatnya, dia menuliskan nama negara yang ia tuju untuk meraih beasiswa. Akhirnya, dia diterima oleh Universite d’Angers di Prancis pada 2011-2012 dengan tiga beasiswa sekaligus. Tapi, bukan berarti dia selalu bisa meraih beasiswa. “Saya ditolak empat kali,” kata Abel yang baru saja meluncurkan buku bertajuk ‘Meraih Mimpi dengan Beasiswa’ pertengahan tahun lalu.

Nah, daripada kamu ikut-ikutan khayal babu untuk jadi influencer di media sosial, gak ada salahnya kamu simak wawancara Abel berikut ini. Mana taukamu bisa dapet beasiswa juga dengan belajar dari pengalaman Abel, Feedies:

15943115_10211111231314434_1615676374_o

Bisa diceritakan kapan sih tepatnya pertama kali Abel dapat beasiswa dan berapa lama studinya waktu itu ditempuh?

Pertama kali saya dapat beasiswa adalah ketika semester tiga di jenjang S1 di Universitas Indonesia, tepatnya tahun 2008. Nama beasiswanya adalah Pengembangan Potensi Akademik atau biasa disingkat dengan PPA. Sedangkan beasiswa ke luar negeri pertama saya adalah untuk menempuh program Double Degree di Université d’Angers di Prancis tahun 2011-2012.

Saya mendapatkan tiga beasiswa sekaligus untuk pergi ke Prancis pada saat itu, yaitu Beasiswa Unggulan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang mencakup dana untuk kebutuhan sehari-hari; Bourse du Gouvernement Français (BGF) untuk visa, asuransi kesehatan, dan biaya administrasi kuliah; serta yang terakhir adalah Bantuan Keberangkatan Ke Luar Negeri dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk membeli tiket pesawat.

Pernah terpikir kalau studi kamu gak bisa selesai saat menempuh pendidikan dengan beasiswa?

Pernah terpikir, terutama ketika saya kuliah di Prancis. Saya dulu ingat itu kalau saya terlalu excited berada di luar negeri pertama kali. Saya jalan-jalan ke banyak kota dan negara di luar Prancis, hingga kadang harus belajar (atau tidak belajar) selama perjalanan.

Karena kurangnya efforts yang saya berikan kepada kuliah saya pada saat itu, akhirnya saya harus puas mendapatkan nilai-nilai yang pas-pasan. Saya pun mulai panik jika tidak lulus dan harus mengulang mata kuliah, karena artinya saya harus extend di sana dengan biaya sendiri.

Berapa jarak beasiswa yang pertama dengan beasiswa berikutnya? Bisa diceritakan secara singkat?

Kalau beasiswa sewaktu S1 jaraknya tergantung dari periode beasiswanya, misalnya untuk beasiswa PPA, durasinya adalah satu tahun dengan pemberian dana dibagi dua periode, yaitu setiap akhir semester. Tiap tahun, saya mendaftar beasiswa tersebut. Karena fleksibilitasnya, saya diperbolehkan mendaftar beasiswa yang lain bersamaan. Sehingga di tahun 2009, saya mendaftar beasiswa Supersemar, dan kebetulan lolos.

Sedangkan untuk beasiswa ke luar negeri, jaraknya sekitar 1 sampai 1-5 tahun, biasanya waktu tersebut saya gunakan untuk mempersiapkan dokumen pendaftaran universitas ataupun pendaftaran beasiswanya sendiri.

Sebelum meraih beasiswa, pernah gak Abel meresolusikan itu secara khusus? Atau bahkan mungkin sampai menuliskan keinginan itu?

Keinginan untuk mendapatkan beasiswa sebenarnya lebih ke arah kebutuhan. Kebutuhan untuk menunjang kehidupan sehari-hari sebagai anak rantau yang baru menginjakkan kaki di Jakarta ketika mulai kuliah. Latar belakang saya untuk mendaftar beasiswa pun kemudian terus bergeser ketika saya mulai menempuh semester-semester tinggi.

Beasiswa menjadi sebuah pintu untuk membuka kesempatan mengembangkan diri yaitu dengan misalnya kuliah di luar negeri. Jika spesifik menulis nama beasiswa yang ingin didapat, sepertinya tidak pernah, tapi yang saya tulis adalah negara tujuan impian saya untuk berkuliah.

Gimana sih kiat-kita Abel untuk bisa meraih beasiswa? Kok bisa meraih 10 beasiswa?

Persistensi, pantang menyerah, mencari informasi sebanyak mungkin, dan berani untuk apply.

Belajar terus, apa gak bosen?

Justru biar nggak bosen, saya belajar. Karena saya orangnya susah untuk hanya diam di kantor melakukan pekerjaan di meja dan monoton, menjalani rutinitas yang sama setiap harinya.

Sedangkan dengan melanjutkan kuliah, saya menambah wawasan, menambah ilmu, bertemu banyak orang dari berbagai latar belakang. Saya bisa jalan-jalan, memperluas pemahaman terhadap kehidupan dan masyarakat yang ada di luar comfort zone kita.

Tapi iya sih, kadang-kadang bosen juga belajar. Haha

Setelah meraih 10 beasiswa, apalagi yang ingin kamu raih?

Sebenarnya beasiswa bukan merupakan “tujuan” bagi saya, beasiswa lebih ke arah “alat” untuk mencapai tujuan saya yang sebenarnya. Saat ini saya sedang menyelesaikan S3 saya di Tilburg University, Belanda mengambil isu tentang konflik etnik dan agama di Indonesia Timur.

Impian dan capaian yang ingin saya wujudkan dalam waktu dengan mungkin adalah menyelesaikan apa yang sudah saya mulai ini. Ke depannya, mungkin saya akan mempertimbangkan untuk lanjut post-doc, ataupun langsung menjadi practitioner bidang konflik baik di Indonesia maupun luar negeri.

Menurut kamu, negara mana sih yang paling gampang memberikan beasiswa dan mana yang justru paling sulit?

Di buku saya, sudah ada daftar negara-negara di dunia yang banyak memberikan peluang beasiswa bagi mahasiswa asing ataupun khususnya mahasiswa Indonesia.

Dari pengalaman saya, dan dari obrolan bersama alumni dan pelajar rantau, ada beberapa negara yang memberikan porsi lebih kepada mahasiswa Indonesia seperti Belanda, Australia, Inggris, dan Amerika Serikat

Pernah ditolak saat mengajukan aplikasi beasiswa? Berapa kali kamu ditolak?

Pernah dong! Saya ditolak empat kali. Tetapi yang benar-benar ditolak adalah dua kali sedangkan dua yang lain, saya mendapat pemberitahuan bahwa saya tidak lolos, tetapi beberapa hari atau minggu kemudian, tiba-tiba ada keajaiban dan saya mendapat kesempatan lolos beasiswa tersebut. Dua beasiswa itu dari Orange Tulip Scholarsip dan dari LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan).

Iya, saya sempat ditolak LPDP. Sedangkan, dua beasiswa yang saya benar-benar ditolak adalah dari Beasiswa Unggulan untuk menempuh Master di Belanda dan Beasiswa Summer School di Oslo.

Kapan Abel kembali ke Tanah Air? Apa yang akan dikerjakan kalau kembali dan bekerja di Indonesia?

Program S3 saya akan selesai sekitar tahun 2019. Selain karena LPDP mewajibkan para alumninya untuk kembali ke Tanah Air dan mengabdikan ilmunya di Indonesia, saya secara pribadi memang berkeinginan kembali.

Kemungkinan saya akan kembali ke Universitas Indonesia, sebagai pengajar dan melanjutkan karir saya sebagai part-time consultant untuk institusi yang berhubungan dengan konflik. 

Saat ini, apa yang sedang Abel kerjakan di Eropa?

Secara formal dan legalnya, saya adalah mahasiswa S3. Sebagai mahasiswa, saya banyak menghabiskan waktu untuk membaca dan menulis. Bertemu para promotor setiap bulannya dan mengikuti kongres atau konferensi untuk menambah link, memperluas networking, dan seterusnya.

Saya juga sedang membangun www.kelasbahasa.com bersama beberapa teman di Indonesia. Kelasbahasa merupakan platform untuk belajar Bahasa Inggris, Prancis, dan Indonesia melalui messengers. Bisa Whatsapp, BBM, LINE, ataupun Skype. Yang berbeda dari Kelasbahasa adalah keuntungan yang didapat akan disalurkan kepada guru-guru di daearh 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) Indonesia. Selain itu, saya juga membuka catering makanan khas Indonesia kecil-kecilan di Belanda.

Sulit gak sih hidup di negeri orang? Menurut kamu, apa tantangan terbesarnya?

Awalnya memang terlihat sulit, karena di awal akan terlihat semua perbedaan antara Indonesia dan negara tempat tinggal. Apalagi kalau berhubungan dengan cuaca, datangnya musim gugur yang menandai mulainya musim galau, angin, hujan, dan dingin.

Selain itu, jika hidup di Negara yang jarang ada orang Indonesianya, akan lebih sulit untuk menemukan bahan makanan Indonesia atau Asia. Nah, kita semua tahu bahwa makanan adalah salah satu hal paling esensial bagi orang Indonesia.

Kalau tantangan akademik akan lebih pada perbedaan sistem pengajaran dan pemakaian bahasa lain selain Bahasa Indonesia.

Saat ini, ada banyak banget pelajar Indonesia yang belajar di luar negeri, dan situasinya bisa dibilang sangat berbeda dengan dulu, apalagi pemerintah juga gencar menawarkan beasiswa, apa sih yang jadi tanggung jawab paling besar untuk mereka yang menerima beasiswa?

Belajar, membawa nama baik Indonesia jika bisa mengharumkan nama Indonesia, dan kembali ke Indonesia untuk menyebarkan ilmunya.

Bisakah diceritakan awal mula Abel menulis buku ‘Meraih Mimpi dengan Beasiswa’? Kenapa tertarik menulis?

Saya menulis buku “Meraih Mimpi dengan Beasiswa” sejak tahun 2015, butuh waktu setahun hingga buku tersebut terbit. Saya banyak mendapat pertanyaan dari teman, kenalan, adik angkatan, sampai orang yang saya tidak kenal, tentang bagaimana caranya mendapat beasiswa.

Dari pertanyaan-pertanyaan itu, saya memiliki niat untuk merangkum semua step yang sudah saya lakukan untuk mendapatkan beasiswa agar orang bisa dengan mudah merujuk ke buku tersebut. Dan ketika saya ditawari oleh sebuah penerbit untuk menerbitkan buku tentang beasiswa, saya pun langsung mengiyakan dengan semangat.

Dengan buku ini, saya ingin lebih banyak lagi putra bangsa Indonesia yang bisa mencapai mimpinya untuk kuliah di luar dan dalam negeri tanpa perlu memikirkan biayanya sebagai sebuah ganjalan bagi mereka. Satu pesan terakhir untuk  generasi muda, “Saya bisa (mendapat 10 beasiswa), karena saya berani apply.

Gimana Feedies? Daripada kamu gagal jadi Selebgram, YouTuber, atau Influencer, mendingan kamu kuliah lagi untuk nambah pengalaman hidup… 🙂

http://www.feedme.id/viral/pelajar-10-beasiswa-eropa/2/

36 questions to fall in love

Just watched a Ted Talk from Mandy Len Catron. She wrote an article on the New York Times about her own experiment of falling in love with stranger through asking 36 questions and 4 minutes of gazing each other. These questions begin with some more general view about other’s life experience and continue with some more personal questions that lead to intimate answer. Here are the 36 questions. Why don’t give it a shot? 🙂

https://mobile.nytimes.com/2015/01/11/fashion/no-37-big-wedding-or-small.html

The job you know it exists but simply never really thought about.

Happy birthday to my Sagittarian sister ketemu gedhe @agliestagaluh ! Instagram, meet Galuh. She is one of the most big-hearted persons I’ve ever met..

It all started when she came to the NL and stayed at my place for a couple of days, we went to Bruges and had to stay over in Antwerp, just because we were so ignorant about our train schedule. It was quite an adventure though.

.

A few months later I visited her in Berlin, and stayed for 10 days! She introduced me to all of her friends and showed me corners of Berlin, everything, except what she was exactly doing as a job there. Everytime I casually asked her about her job. I never had any impression of her complaining, hating it, or having any negative thoughts about it. I might be wrong. I got the impression that it wasn’t that she didn’t want to tell what her job was or being ashamed with it, but she was sorting out the most digestible information for me.

.

And it was only on my last day in Berlin that I seriously asked her, what her job really was. Then she explained to me everything. She worked as a volunteer at a nursing home for mentally & physically disabled persons. She told me that it was all hard at first, she cried all night for the first days of her work. She didn’t know about the job she’d be doing, only after she arrived in Germany, that she did know about it. So I decided to spend my last day in Berlin to visit her workplace, was grateful that I was allowed to. It is a private nursing home (looks like an ordinary 3-bedroom apartment), with only three patients (two female & one male) having disabilities.

.

After greeting all the caretakers & the patients, I was invited to have dinner with them, all of them. That was a quite experience for me, being on the same table with people who could barely hold their spoon properly & other stuffs & other stuffs, etc. I am just not so fond to describe what it felt to me that time, it was all new to me. That world that I never really thought about, now seems so alive and kicking. In short, her job is supporting the life of these people, in all possible ways u could imagine, from when they wake up until their bedtime. .

Big & brave heart! Have a blast Luh! 🌷