Puasa di Belanda (18-19 jam)

Hari ini adalah hari pertama puasa di Belanda disambut dengan suhu 31-35 derajat celcius di siang bolong yang terik. Sungguh nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan. 

Panas. Gerah. 
Kami di sini, berpuasa selama kurang lebih 18-19 jam. Kenapa bisa beda? Tergantung mazhab yang dianut sebenarnya. Ada yang mulai dari jam 3 pagi, ada yang jam 4. Saya sendiri mengikuti yang puasa dari jam 4 pagi. Bismillah ya. 
Sebenarnya ini bukan kali pertama saya puasa di rantau, ataupun puasa di luar negeri. Puasa di rantau pertama saya adalah ketika saya kuliah S1 di UI. Pertama kali merasakan puasa jauh dari rumah, dari keluarga, menyiapkan sahur sendiri, memilih dan menentukan menu buka puasa sendiri. Jujur, berat juga dulu rasanya. Ditambah adaptasi dari anak kampung ke Jakarta (well, Depok sebenernya bukan Jakarta sih ya). Coba anggap aja seperti itu. Haha. Jadilah sering galau sendiri kalau malam, atau kalau sahur. Tapi untungnya, dulu saya tinggal di asrama UI, di mana lorong saya ada piket untuk membeli makan sahur bergantian. Dan suasana akrab kekeluargaan pun sangat terasa. Terima kasih teman-teman gedung F2 lantai 1! 

Kemudian sejak saat itu saya sering puasa di rantau, waktu S1, kemudian lanjut double degree di Prancis, kemudian kuliah S2 di Belanda, kemudian S3 di Belanda. 
Pengalaman pertama kali puasa di luar negeri adalah ketika saya kuliah di Prancis. Tahun 2012 yang lalu. Waktu itu kebetulan saya sedang magang di suatu daerah di Prancis bagian Utara, namanya Grand-camp Maisy, daerah Normandy/Normandie. Daerahnya sepi, kebanyakan penduduknya adalah lansia, turis ada beberapa yang datang karena daerah ini termasuk daerah yang cukup bersejarah bagi orang-orang Eropa terutama berkaitan dengan Perang Dunia kedua. Ayo jangan malas coba di Google sendiri. Atau, atau kalian bisa tonton film Saving Private Ryan. Nah, settingnya di situ. Hehehe.
Jadi dulu itu saya ingat kalau saya harus puasa sambil kerja, fyuh, kerja di bidang hospitality pula, di sebuah apartemen untuk liburan. Saya menjadi asisten direktur slash resepsionis slash cleaning lady slash tukang maintenance. Harusnya sih nggak boleh begitu yah karena di kontrak, jobdesc saya adalah asisten direktur. Tapi namanya juga orang Indonesia, atau mungkin lebih karena keturunan Jawa, jadi ya saya iya-iyain aja disuruh apa aja. Ya gitu. Tapi sebenarnya saya nggak pernah mempermasalahkan itu sih, saya selalu anggap semua hal itu adalah proses belajar. #sokbijak #iyah
Nah, karena jobdesc saya yang beragam itu, jadi cobaan tersendiri untuk menjalani puasa di tengah musim panas. Ketika jadi resepsionis, saya harus tetap menjaga sikap selalu ramah dan baik terhadap tamu. Setelah kerja kadang saya harus belanja di supermarket sebelum masak, kemudian tentunya masak sendiri, dan makan pun sendiri. Mungkin kalian yang belum pernah ke luar negeri selalu punya imaji bahwa hidup di luar negeri itu menyenangkan, indah, seru, dll seakan semua seindah postingan instagram. Nope. Yang begini-begini jarang banget kalian tau karena nggak semua orang share tentang kegalauan mereka. Eh kami. 

Begitu pula ketika saya harus puasa di Belanda ketika S2, tahun 2014 dan sekarang S3, 2016 dan 2017. Tetap nano nano rasanya. Tapi mungkin saya sudah naik kelas, jadi lebih ke “menerima” situasi dan beradaptasi sebisanya dan tetap bersyukur dengan pencapaian dan fase-fase yang sudah saya lalui hingga sampai di sini. Terutama di Belanda banyak sekali orang Indonesia dan kami pun sering berkumpul, masak bareng, ngobrol-ngobrol, piknik dan melakukan aktivitas lain bersama. Menjadikan kami keluarga dadakan yang dekat. Sehingga perasaan jauh dari keluarga pun tak terlalu membayangi dan menjadikan alasan untuk galau. 

Hari ini, tanggal 27 Mei 2017, pertama kali saya masak besar di saat menjalankan ibadah puasa. Sebelumnya tidak pernah terpikir apakah saya akan mampu untuk melakukannya, membayangkan puasa 18 jam di suhu 35 derajat saja sudah bergidik, apalagi harus masak untuk 11 orang? Masak dengan menu yang tingkat kerumitannya pun lumayan. Untuk kalian yang berpuasa, pasti tau kan beratnya hari pertama, terutama di jam-jam kritis setelah dzuhur. Huft. 

Dulu saya selalu bertanya-tanya, kok bisa ya mamah saya kuat masak untuk kami semua di hari pertama puasa, sedangkan saya hanya mampu gegoleran di kasur sambil dengerin lagu ataupun baca buku-buku ringan. 

Dan baru kemarin saya rasakan. Iya bisa. Dan iya. Saya nggak merasa berat untuk masak sambil menahan lapar dan tetap berpuasa, 18 jam. Aneh ya? 

Mungkin ini berhubungan erat dengan kecintaan saya terhadap memasak beberapa tahun ini. Memasak membuat saya tenang, membuat saya bahagia, melatih otak saya bekerja, saya menjadi sangat fokus, badan saya pun terus bergerak. Saya lelah, pastinya, tapi memasak tidak melelahkan. If you get what I mean. 

Dari situ saya pun ingat banyak sekali kutipan yang mengatakan: “love your job and you will never work a day.” 

Ini adalah menu kami kemarin:

1. Nasi bakar ayam kemangi

2. Kolak pisang + labu kuning + ubi jalar + kolang kaling (yeay kolang kaling! Seharga satu kilo ayam)

3. Mendoan

4. Baklava (dari Mas Andrie)

5. Bubur ketan hitam


Dan inilah teman-teman yang kemarin berbuka puasa bersama:

Aiyubi, Laduma, Mas Andrie, Vicky, Fadra, Bli Putra, Sean Putra, Kevin, Jecky, dan Nancy. 

Semoga lancar puasanya kawans dan sukses selalu! 

Tilburg,

28 Mei 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s