Then off we go! Hey the Netherlands!

Why the Netherlands?

We’ll start with this one million-dollar question. Sebenarnya, keinginan untuk ke Belanda, belajar di sana sudah sangat lama berada di alam bawah sadar saya. Hari ini, ketika saya harus berangkat ke Belanda, saya mulai melihat kembali potongan-potongan puzzle yang mulai terpecahkan.

Tahun 2007, atau sekitar 6 tahun yang lalu saya sempat ngefans dengan Rebecca Reijkman. Hal ini berawal dari karena saya memang suka suara dan lagu dia, di tambah, dulu itu sempat ada acara di salah satu stasiun televisi dengan dia sebagai tamunya. Kalau saya tidak salah, “Sehari bersama Rebecca”. Dari situ, saya sangat suka gaya dia yang cantik tapi nggak merasa bahwa dia cantik. Apa adanya, humble, friendly, dan menyenangkan. Salah satu kepingan yang saya maksud adalah ketika dia berbicara bahasa Indonesia dengan aksen bahasa Belanda dan Inggris dia. Ingat, bukan lebay seperti Cinta La*ura ya. Ini natural. Dan ya. Sudahlah. Kemudian saya dalam hati mulai tertarik.

Tahun 2010, saya ingat dulu itu masih semester 5 atau 6. Saat ketika keinginan saya ke luar negeri sangatlah kuat. Waktu itu ada beberapa pilihan yang mungkin bisa saya daftar selain pastinya Prancis. Kemudian entah kenapa, saya menulis nama “Belanda” di mading saya di kamar. “2012, S2 à la France/ Belanda” begitu bunyinya. Dan alhamdulillah terkabul.

Tahun 2008, saya bertemu dengan salah seorang teman di asrama mahasiswa Universitas Indonesia. Dia anak S1 internasional FE. Suatu hari, kami bersama teman-teman sedang ngobrol di kantin dan akhirnya muncul nama “Tilburg”. Saya ingat banget dulu itu saya dan teman-teman salah mengucapkan nama kota ini kemudian dibetulkan oleh teman saya itu. Dari situ, nama Tilburg mulai muncul dan mengakar. Kemudian Belanda pun tak lagi general, ia menjadi lebih spesifik, Tilburg.

Ditambah lagi, ada salah seorang teman saya, bernama Febriana Chynthia Dewi yang entah secara sadar atau tidak sadar membuat saya juga tertarik dengan Belanda. Karena dia sangat ingin ke Belanda untuk kuliah atau sekedar main ke sana. Dari tiap kali dia excited tentang Belanda, akhirnya perasaan itu menular ke saya. Dan ya, saya pun di alam bawah sadar merasa ingin ke Belanda.

Kalau mau disimpulkan, God’s winks atau isyarat-isyarat Tuhan itu ada, dimana-mana. Tinggal kita mau melihat lebih dalam dari setiap situasi dan mengambil benang merahnya atau membiarkannya seakan tidak peduli. Dan dari sini pula saya belajar bahwa memang alam bawah sadar kita ikut berperan penting dalam setiap keputusan yang kita hadapi di dunia nyata.

Srengseng Sawah, 27 Agustus 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s