La Tahzan!

Setiap manusia memiliki resistensinya dan ambang batas masing-masing dalam menghadapi suatu masalah, yang berulang ataupun tidak. Saya melihat dari beberapa pengalaman, juga pengalaman pribadi, ada dua aliran utama dalam eksekusi sebuah perasaan yang berlarut menerus.

Pertama adalah ketika semua kesedihan, kekecewaan, serta sakit hati akan mengalami sebuah titik balik setelah ia (kita) memutuskan, inilah titik puncaknya. Dan cukup. Tidak perlu lebih sakit dari ini. Pada kondisi ini, diperlukan adanya andil besar dari conscious mind kita sendiri untuk ikut menyudah. Aliran pertama ini memerlukan variabel dengan sigma yang cukup signifikan dari lama tersakiti yang diparalelkan dengan intensitas serta kualitas sakit yang ditimbulkan. Ketika ketiga variabel tersebut beririsan dalam waktu dan keseringan yang kuat. Si penderita sakit hati bukannya akan berlarut dalam kesedihan, tetapi dia malah akan merasa cukup. Dan bertolak balik, sehingga grafik emosionalnya akan merujuk menjadi sebuah diminution curve.

Aliran kedua, adalah sebuah kenyataan yang masih sering ditemukan saat ini, justru ini adalah mainstream terutama di kalangan anak muda. Sebut saja galau. Sebenarnya kesedihan memang kadang kala bersinggungan dengan usia. Tapi menurut saya, lebih tepatnya ia bersinggungan dengan kematangan cara berpikir, sudah matang, atau belum matang. Sama seperti pada aliran pertama, tiga variabel tersebut beririsan, namun si penderita “merasa” ia tak berdaya atas cengkeraman di lingkungannya. Sehingga ia “seolah” harus bersikap pasrah, sabar, dan nrimo. Hal ini sebenarnya tidak baik bagi keberlangsungan mental si penderita. Terutama ditegaskan adanya doktrin, “orang itu harus sabar, terima apa yang dialami, syukuri.” Entah kenapa dari sisi logika, maaf, saya nggak nyampe untuk mencernanya. Justru karena pandangan pandangan di lingkungannya serta ketakberdayaan sintetis yang membungkus dirinya, si penderita, terlepas sepanjang apapun irisan ketiga variabel tersebut, hanya akan terus menderita. Dan merasa pantas menerimanya.

Cobalah, terutama saya tujukan bagi kaum perempuan. Kita berhak atas kebahagian. Kita harus bisa mengontrol kesedihan, memilah, mengesampingkan. Percayalah bahwa dirimu adalah sesosok yang tangguh. Bukan seperti bentukan persepsi salah kaprah masyarakat.

Tulisan feminisme.

Abellia Anggi Wardani,

16 Juli 2013
Tanjenjoined.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s