What’s yours?

Setiap orang pasti memiliki kecenderungan masing-masing dalam menikmati musik. Begitu pula saya yang, menurut saya, telah mengalami evolusi lokal dalam hal ini. Saya masih ingat ketika SD kelas 5 dan kelas 6, saya tergila-gila dengan boyband terutama Westlife, kemudian Backstreet boys. Kecintaan saya terhadap Westlife, bagaimanapun, masih terus berlanjut hingga detik ini. Hmmm. Mungkin bagi angkatan saya dan beberapa tingkatan di bawah dan di atas saya, wajar jika pernah terkesima denga aksi panggung, ketampanan, suara, dan apa saja yang bisa membenarkan kekaguman mereka, kekaguman kami.

Bisa saya bilang itu adalah stage pertama saya dalam dunia musik. Well, kata stage sepertinya terlalu berat jika untuk disinonimkan dengan orang yang hanya mendengarkan musik seadanya. Baiklah, kemudian saya mengenal Linkin Park. Perubahan ini agak drastis jika saya mau katakan. Stage ini dimulai ketika saya duduk di bangku kelas 2 SMP. Ada seorang teman satu gang saya yang sangat menyukainya. Begitu pula jaman itu entah kenapa band ini sedang melejit pamornya. Sehingga, saya pun kembali menjadi “pecinta” mereka. Menggusur sense pop saya menjadi rock dan rock alternative. Namun, resonansi musik-musik kencang itu ternyata tak lama meneduh dalam alam bawah sadar saya.

Ketika saya mulai masuk SMA, ada perasaan ingin sudah dengan segala teriakan dan tarikan otok leher itu. Saya sempat ada vacuum dan mendengarkan apa saja yang terdengar. Tidak ada preferensi yang kuat. Mengikuti lingkungan saya seadanya saja.

Masuk ke bangku kuliah, saya masih dalam masa-masa, lagu enak, dengar. Lagu aneh, tinggal. Masih sebatas pop, terkadang juga rock alternative. Sehingga saya dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan yang kadang sulit untuk saya jawab adalah “Bel, genre musikmu apa?” “Kamu dengerin musik apa?” “Artis favorite kamu apa?”. Untuk pertanyaan ketiga, saya masih bisa jawab, “Westlife, MCR, atau kalau musisi Indonesia Naff, Noah, Ungu.” see? Mainstream..

Keadaan tersebut bertahan hingga kemarin, saya bertemu dengan seorang gadis Belanda di Starbucks coffee di Balikpapan. Setelah beberapa lama mengobrol, akhirnya kami tiba di suatu kesepakatan untuk pergi traveling bersama. Pulau Bangka menjadi tujuan kami selama 3 hari.

Di perjalanan tersebut, saya pertama kali “membuka hati” untuk genre musik lain. Genre musik yang sebenarnya selama ini saya cari. Karena saya suka traveling, suka perpindahan, suka berpikir sambil mengembara, saya butuh teman yang menemani tapi tak perlu mengada. Musik. Musik yang tepat. Biasanya di MP3 player saya selalu saya isi dengan lagu-lagu kesukaan saya, yang sudah berjuta kali saya putar. Dan saya berakhir dengan tidak bisa mendapatkan feel dari sebuah perjalanan, pengembaraan fisik dan pikiran.

Dia mengenalkan saya sebuah aliran musik folk music lagu-lagu dengan liri balada, yang ketika kita dengarkan, imajinasi kita seolah diajak menjadi pemeran utama sebuah adegan film. Entah settingnya di tepi gunung, di pinggir laut, merenung di tepi jembatan, kehujanan, semuanya tergambar jelas. Saat itu pula saya baru merasakan perasaan eureka. Ini yang selama ini saya cari. Ini yang seharusnya mengantarkan pikiran saya berkelanan dan badan saya mengelana.

Judul lagu yang saya dengarkan dulu itu adalah Speak up oleh Janne Schra dan Let Her Go oleh Passenger.

Check them out!

Antre di drg. Koesmanto,

Mampang, 18 April 2013

Advertisements

3 thoughts on “What’s yours?

  1. Halo belanggi

    Saat ini saya sedang browsing tentang drg koesmanto mampang dan di blog anda ada nama beliau. Sebagai calon pasiennya, ada yg ingin saya tanyakan, apakah beliau memang seorang Spesialis? Karena banyak artikel yang menyatakan bahwa ia bukan seorang dokter spesialis. dari pengalaman anda, apakah menurut anda beliau berkompeten dalam urusan pemasangan behel?

    thanks in advance!

    1. Halo Mbak Lala! Setahu saya dokter Koes memang bukan spesialist tapi sejauh pengalaman saya dan dari beberapa teman yang juga memasang behel di tempat beliau, menurut saya beliau berkompeten untuk hal tersebut. Hasilnya bagus dan dokter Koes mau mengerti kebutuhan pasiennya dengan baik. Misal dulu saya harus segera kembali ke Belanda dan ingin lepas behel, jadi selama 6 bulan, dokter Koes merekayasa kontrol agak behel saya dapat dilepas dengan hasil gigi yang rapih selama 6 bulan tersebut. Semoga membantu. šŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s