Mengejar kelas

“at what point you can tell that one is poor and the other is rich?”

Tiba-tiba saya teringat perjalanan saya di tahun 2011 ke Kupang. Mungkin ketika mendengar kata Kupang, atau provinsi Nusa Tenggara Timur, bagi sebagian orang Indonesia bagian Barat akan ada selintas pemikiran bahwa provinsi ini kurang berkembang, masih alami, tingkat pendapat perkapita rendah, gersang, dan hal-hal lain yang tidak jauh dari topik tersebut.

Kupang merupakan ibu kota provinsi dari Kepulauan Nusa Tenggara Timur. Sebenarnya, jika dilihat dari potensi alamnya, daerah ini memiliki beragam kekayaan alam yang bervariasi seperti kekayaan maritimnya yang masih lestari, keindahan alamnya, sabana dan stepa, peternakan kuda, serta perkebunan jagung. Tidak banyak lapangan pekerjaan yang bisa ditemukan di kota ini. Berkisar antara supir angkot, supir bus, pedagang, serta PNS. Industri-industri kecil tidak terlalu berkembang dengan baik, hanya beberapa kerajinan tangan khas daerah ini yang kemudian dijual di beberapa outlet untuk dipasarkan.

Beralih ke topik utama, kuniungan sejenak saya ke Kupang, berinteraksi dengan beberapa tokoh masyarakat di sana, serta menyaksikan secara langsung ritma kehidupan masyarakat NTT membuat saya berpikir ulang tentang definisi kaya dan miskin. Dalam sebuah forum yang diadakan oleh pemerintah daerah NTT, ada salah seorang pegawai menceritakan tentang kehidupan masyarakat di daerahnya yang cukup terpencil, sekitar 8 jam perjalanan darat dari Kupang. Dia menceritakan bahwa di sana, kemewahan adalah ketika kita bisa mandi sehari sekali.

Masyarakat di desa tersebut tidak mengenal toko, mereka tidak bekerja, jika yang didefinisikan bekerja adalah kegiatan untuk mencari uang. Mereka menyelaras dengan alam, menanam apa yang memang musimnya. Jika memang bukan musim jagung, mengapa harus memaksakan diri untuk menanam jagung? Maka mereka beralih menanam singkong dan tanaman lain. Mereka menernak ayam, sapi, atau memburu apa saja yang ada di lingkungan mereka. Jika pun tidak ada protein hewani, itu bukan menjadi masalah yang perlu dipermasalahkan. Dengan sistem kehidupan seperti itu di sebagian daerah di NTT, sangatlah wajar ketika provinsi ini dinobatkan sebagai provinsi dengan tingkat pendapatan per kapita terendah di Indonesia. Tapi, apakah itu menjadi tolak ukur bahwa daerah itu, orang-orang yang tinggal di situ adalah miskin?

Konsep miskin lahir untuk menjadi anti tesis bagi orang yang memiliki banyak uang. Sehingga ketika ada orang yang tidak memiliki akumulasi uang yang sama, akan dikatakan miskin. Secara umum kita dapat simpulkan seperti itu. Tetapi, bagaimana jika situasinya adalah, sekelompok orang ini tidak mengenal uang? Tidak mempersoalkan uang sebagai alat tukar? Apakah kita juga bisa mengkategorikannya sebagai miskin? Menurut saya, tidak.

Ini hanyalah bagaimana kehidupan dipandang dari setiap kelompok yang berbeda. Memakai kaca mata yang berbeda dalam menafsirkan makna hidup bukan berarti salah satu lebih mengerti dari yang lain.

Ketika kita semakin masuk dalam sebuah komunitas, kita akan lambat laun mengadaptasikan diri kita pada kelas itu, pada pemikiran mayoritas di dalamnya. Akan sulit lepas secara sadar tanpa adanya pertentangan, percayalah. Contoh saja, ketika seseorang sudah mulai mengenal arus pengikut mode, ketika dia sudah mengenal dan mencapai titik mampu membeli merek tas tertentu, dia akan berat hati hingga alergi dan enggan membeli merek yang jauh di bawahnya. Karena sudah tidak bisa. Dengan rentetan pembenaran yang mungkin diajukan seperti “ini bahannya bagus, elegan, kuat, tahan lama, dia juga pakai lho, nanti aku setara dengan dia juga, dll.” akan mewarnai perang batin masing-masing orang. Tentunya ini berlaku bukan hanya untuk kaum hawa saja. Bukan begitu?

Jadi, bukan karena masyarakat tradisional di Indonesia yang masih hidup dengan mengandalkan kemampuan bercocok tanam, mereka tidak mampu membeli Louis Vuitton kemudian kita mengasihani mereka. Mungkin malah sebaliknya, mereka yang mengasihani masyarakat masa kini yang mengorbankan seluruh waktu, hidup, dan pikiran mereka untuk mengejar suatu kelas dalam masyarakat.

Balikpapan, 3 April 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s