Amsterdam

Amsterdam. Hujan rintik menemani perjalanan Bella menuju Ibu kota Belanda yang masih menyapa dengan dingin di awal musim semi ini. Ia sengaja naik kereta cepat dari Paris agar dapat segera bertemu dengan Rino di sana. Baginya, pertemuan ini adalah salah satu momen terpenting dalam satu tahun dirinya di Eropa. Setelah selesai melewati kota-kota di Belgia, kereta pun terus melaju, sekarang meninggalkan Rotterdam, dan segera menuju ke kota pemberhentian terakhirnya, penambatan hati Bella.

Waktu telah menunjukkan pukul 13:45, lima belas menit lagi kereta ini akan sampai di Amsterdam Centraal, salah satu stasiun besar di Amsterdam. Hati Bella mendadak ragu, ia tak bisa mengontrol perasaannya sendiri. Seperti campuran antara rindu yang telah mengakar dan keasingan yang belum terbebaskan antara dirinya dan Rino. Meskipun ia berusaha menenangkan dan meyakinkan dirinya di detik-detik terakhir, ada satu rasa yang janggal yang dia tak bisa pungkiri.

Kegundahannya terhenti ketika handphone yang sedari tadi ia pegang bergetar. Ada satu SMS masuk, pasti dari Rino, pikirnya. Rino telah menantinya sejak pukul 8 pagi, ketika pesawat Garuda yang ditumpanginya mendarat di bandara Schipol.
“kamu dimana? Aku sudah di Centraal.” isi dari SMS Rino.
Bella masih menatap layar handphonenya nanar, bagaimanapun, ia masih saja dihadapkan pada perasaan ingin lari dari kenyataan, ada yang salah di sini, di pertemuan ini, entah apa, atau di sebelah mananya. Mungkin jika bisa, ia ingin putar balik ke Paris atau pura-pura tersesat salah turun stasiun saja. Tapi dalam hatinya ia tahu semua itu sudah terlambat. Turun dan menghadapi semua kemungkinan adalah satu-satunya jalan yang bisa ia pilih.

“hai” sapaku sambil membalas ciuman hangat darimu di kedua pipiku. Ini seperti mimpi. Kita bertemu lagi, di sini. Di tempat entah yang belum pernah kuinjakkan kaki sekalipun. Tapi kamu ada, di situ, tepat di depanku. Menggendong tas selempang dan setangkai buquet mawar kuning. Aku tahu kau ingin mengesankanku di pertemuan “pertama” kita. Tentu kau perlu tahu bahwa aku cukup memerah saat akhirnya kau berikan bunga itu padaku. Hanya satu pertanyaan yang sempat terlontar kepadamu, “kenapa kuning?”.

Kemudian kita berjalan, aku bilang aku lapar. Kau menawarkan beberapa fast food terdekat, kemudian akhirnya kita terhenti di salah satu sudut masuk gang kecil yang sepertinya jarang dijangkau turis. Restoran ini tidak terlalu besar, makanan yang disajikan cukup beragam dari soup hingga berbagai macam steak khas Belanda. Kau tau betul aku tak selera makan saat itu.

Mungkin karena hari itu adalah hari ke dua belas sejak aku memulai perjalanan panjang liburan musim semi di 8 kota, 5 negara tanpa henti, wajar saja jika aku sangat letih. Aku hanya sanggup memasrahkan kepalaku di atas meja seraya tak sanggup untuk menengadah. Di saat itu, aku masih sangat ingat bagaimana kau ragu-ragu membelai rambutku, berusaha mengalihkan letihku dengan perhatianmu. Aku sangat luluh. Setelah sekian lama, setelah berbulan-bulan belaian ini hanya dari suara telpon, sekarang kurasakan tanganmu menyentuh nyata, menyisir lembut rambutku. Menenangkanku. Menaklukkanku perlahan. Detik itu, aku meretas keraguan-keraguan dan mulai ingin mengiyakan apa saja.

To be continued..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s