Procrastinating? Not really.

be diligent.

Kalimat ini sebenarnya sudah ditanamkan dari sejak kita di Taman Kanak-kanak, atau bahkan sebelum itu. Tapi pernahkah kalian merasa ada periode waktu ketika kita kehilangan kalimat ini dalam hidup?

Sebenarnya saya bukanlah seorang yang rajin, dan slogan rajin pangkal pandai seringkali tergerus dengan semangat sistem kerja semalam di setiap ujung semester. Saya menyadari dengan baik bahwa entah karena pengaruh Zodiak saya yang Sagitarius, atau sebenarnya memang dari sananya saya, procrastinator tingkat akut. Jadi, harus menunggu ujung tombak musuh di depan mata baru bisa tunduk membaca lembaran-lembaran kertas, inspirasi pun mulai mampir satu-persatu untuk diajak bercengkrama, ya butuh mepet deadline.

Pengalaman kemarin saya mengikuti test IELTS sedikit membuka mata saya tentang persepsi terhadap di saya sendiri, bahwa: saya procrastinator, okay baiklah, tapi di dalam periode terdesak itu, saya persisten dan saya konsisten.

Jadi begini ceritanya, ketika itu adalah 1 bulan sebelum tanggal terdekat test IELTS diselenggarakan. Saya panik, berbekal sifat yang lumayan impulsif, saya nekat berkeinginan ikut test IELTS untuk mendaftar di universitas-universitas yang memakai bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya. Jadilah, saya panik cari buku persiapan, baca blog tentang bagaimana belajar bahasa Inggris, nonton film, baca buku dengan suara lantang, praktik speaking sambil direkam di webcam, dll. Untungnya ada teman saya yang sangat baik membelikan buku latihan IELTS super lengkap (saking baiknya dia, buku seberat 3 kg tersebut dikirim lewat sistem one day service, hahaha). Saya mulailah menargetkan tanggal test IELTS itu di dalam pikiran saya. Mulai menulis banyak kertas penyemangat, pengingat di spots yang saya sering lihat setiap hari agar tujuannya terkunci dengan baik. Kemudian, saya mulai membuat target-target subsider seperti membaca buku 5 halaman setiap hari, tentunya dengan suara lantang untuk sekaligus melatih pengucapan saya. Mendengarkan minimal 1 speech atau 1 video yang saya download dari youtube, ted, dll. Serta menulis, apa saja dalam bahasa Inggris, bahkan mengetweet dalam bahasa Inggris juga bisa jadi latihan yang baik. Begitu seterusnya hingga 1 minggu sebelum ujian, saya mulai intensif mengerjakan soal-soaln yang ada di buku latihan, melakukan simulasi ujian beberapa kali, dsb.

Dari situ saya menyadari bahwa persistensi bisa dibangun dari fondasi procrastinating. Sejauh ini saya tidak mempermasalahkan sifat saya tersebut selama saya masih mampu menentukan target, menyusun rencana seberapa kekuatan yang dibutuhkan untuk mencapainya. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s