Mereka berdansa sendiri

Kemarin saya pergi ke Plaza Indonesia. Niatnya mau cari buku di Kinokuniya (fyi, I never could spell it properly, in my unconscious mind I name it Kinokinuya), ternyata sudah pindah, yang ada tinggal yang di Plaza Senayan. Tapi baguslah saya kemarin mampir ke Plaza Indonesia (PI), seperti yang kita tahu, atau bagi Anda yang belum tahu, PI atau Plaza Senayan (PS) atau Pacific Place (PP), adalah nama-nama mall di Jakarta yang jika disebut namanya, membuat beberapa kalangan mengernyitkan dahi. Termasuk saya.

Di sana, hampir semua brand luar negeri tertata rapi, angkuh, dingin, tak tersentuh, steril, dan elegan. Mereka seperti layaknya kandang-kandang macan bagi saya. Mendekat, melihat dari luar jeruji, menikmati sekilas yang terserap, lalu buru-buru pergi. Etalase tersebut terlalu kokoh, megah tak tertembus.

Tentunya sempat di beberapa toko, saya memenangkan diri untuk menembus gejolak bathin ini. Saya juga ingin masuk, berperan di teater ini. Beberapa tas, dompet, baju, sepatu, atau apa saja, semuanya artistik. Mungkin saya terlalu tersugesti, tapi biarlah euforia ini beradu dengan rasionalitas saya.

Sebenarnya ada gejolak lain, pertanyaan lain yang menyusup di pikiran saya. Bukan hanya, tentunya, dari mana mereka-mereka ini mendapatkan uang untuk membeli selembar berjuta itu? Bagaimana mereka-mereka ini bisa menegak air yang nilainya berpuluh ratus kali lopat dari yang biasa saya minum? Dan satu hal. Bagaimana dulu harga-harga tersebut terasa biasa ketika saya di Eropa, dan saya shock memdapatinya di Indonesia?

Itulah mengapa-mengapa yang terlontar pedas, menusuk, dan tak mau lepas dari pikiran.

Mungkin untuk menjawab pertanyaan saya yang terakhir, mudah jawabannya. Karena tingkat pendapatan orang Indonesia yang jauh berbeda dengan orang Eropa. Pajak di Indonesia untuk barang mewah sangat tinggi, sehingga ada selisih harga yang cukup signifikan antara keduanya. Dan tentunya karena di Eropa, euro sebatas ribuan, sedangkan di sini, kita butuh berapa kali “nol” untuk menyebut setiap harga dari barang-barang tersebut.

Dari dua mall tersebut, saya menyimpulkan bahwa. Orang-orang itu, yang datang ke situ, adalah mereka yang itu-itu saja. Mungkin mereka saling berpapasan hari Minggu ini di mall ini, besok di mall itu, kau lagi, dia lagi. Ini seperti mereka ingin dilihat, mereka juga ingin melihat. Di dalam sebuah sangkar emas berhiaskan ratusan pemanja mata itu, mereka membeli sesuatu setelah melihat orang itu memakai itu, maka saya juga harus lebih, dia masuk ke toko itu menenteng itu, maka saya juga harus membeli tas seperti itu. Dia melangkag di dalam sangkar itu dengan alas kaki itu, maka saya akan cari yang itu. Begitu, terus, mereka berlomba, hanya bertarung dengan mereka-mereka itu, hanya mempermasalahkan mereka-mereka juga, seperti terjebak dalam sebuah situasi yang kita sulit untuk mundur. Lalu, sampai kapan bertahan? Berapa yang harus terkorbankan? Siapa yang terus terpinggirkan?

Saya keluar lagi dari teater itu. Menonton saja cukupZ

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s