Kita terlalu perduli

Adakah sebuah takaran yang tepat untuk menata dunia ini dengan “baik” dan “benar” kemudian “tidak baik” dan “salah”? Akhir-akhir ini saya agak jenuh mendengar kata “seharusnya”. Apa takaran, atau mungkin pertanyaannya adalah kenapa menakar? Kenapa saya harus bertingkah seperti ini kepada kamu, dan bukannya bertingkah begitu, kenapa ini baik dan ini buruk? Kalau bagi saya sendiri, ini baik, dan bagi mereka yang lain, ini tidak, lantas, saya yang minoritas berdiri sendiri, diserbu ke”tidak-benar-tidak-boleh-tidak-baik-tidak-sopan-tidak-elok”an? Jadi saya harus terus apapun itu disuapi, digiring, di jalur mereka dan disetir layaknya sayur-mayur di atas gerobak sayur?

Mungkin tulisan ini terlihat agak ke arah emosi semata, atau bukan. Kalau saya bilang ini hanya “emosi semata” mungkin artinya dalam diri saya, saya masih mencari pengampunan diri, masih mencari balok kayu untuk berlindung di baliknya, atau sekedar saya hanya ingin main aman dengan opini saya. Tidak, saya memang sudah merasa “cukup” dengan situasi ini. Saya letih hidup di antara dua dunia dua pemikiran yang berseteru. Keduanya menekan saya sama kuat. Di satu sisi saya diajarkan bahwa kita masing-masing manusia memiliki urusan, masalah, keinginan, pencapaian, pandangan hidup, pola pikir, sudut pandang, idealisme, agama yang kita percaya, kita pegang, kita anut, kita pertahankan sendiri-sendiri. Di sisi lain, saya hidup di sebuah lingkungan yang kerap melilit saya dengan semua ke”seharusnya” begini “seharusnya” begitu.

Kita memang ditakdirkan hidup di dalam sebuah komunitas, masyarakat, kelompok, dll, apakah jika, kita tidak perlu mengklasifikasikan diri kita kepada label tersebut? Apakah jika, tiap orang tidak punya “kegatalan” untuk mencampuri urusan orang lain? Apakah jika, masyarakat itu tidak ada, dan kita tak perlu merasa dipinggirkan oleh yang selalu bersikap mainstream? Apakah jika, masyarakat bukanlah sebuah struktur yang solid dan kokoh dan mencengkeram, mentitahkan, menilai, menvonis, baik benar salah buruk suatu sikap? Apakah benar kita manusia harus punya sebuah “referensi” bersama yang disebut Nilai dan Norma? Apakah kita memang harus dibelenggu untuk patuh? Ketika kita sadar kita memiliki kepentingan masing-masing, kita memiliki kebutuhan, keinginan, perlukah, dan harus selalukah kita merujuk pada suatu norma? Pada suatu nilai? Kedua instrumen itu yang, justru, melahirkan wacana baik benar salah dan buruk.

Mari coba sejenak kita bayangkan jika, ada sekelompok manusia, mereka masing-masing memiliki keinginan, kebutuhan, harapan. Tanpa perlu membentuk sebuah struktur yang bernama “masyarakat”, tanpa mengenal kata “nilai” dan “norma”, tanpa perlu menvonis, bahkan sebenarnya, bisa dimulai dengan, tanpa ikut campur, dengan urusan orang lain, ketika semua orang tidak perlu perduli dengan masalah, urusan, orang lain, kita akan menjadi lebih tertata, terkonsentrasi atas keinginan, kebutuhan kita.

pemikiran dekonstruktif saya sedang merajuk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s