Ketika Cinta Dipertanyakan

Berawal dari rasa bingung yang selama ini telah dengan sukses menguasai setiap hariku. Ya, bingung tentang apa itu cinta sebenarnya. Universalkah? atau Individualis? Bisa jadi dua-duanya, toh aku tak tahu pasti. Mungkin aku telah mengenalnya, tapi hanya benar-benar sebatas kenal, kemudian tuntas. Kukecap sebentar, membakar mulut, terbuang saat berkumur, jadilah sampah. Panasnya yang membara hanya menggelitik lidahku saja. Lalu, itukah?

Apa memang benar bahwa aku mati rasa? Kupikir tidak juga, hatiku masih berdebar, mimpiku masih sering dihiasi seliweran bayang-bayang mereka. Dan kadang, aku diam tapi pikiranku berlari kencang ingin melepas segala kenangan. Kusadari itu semua sia-sia.

Aku duduk di bangku peron stasiun. Memandang entah apa saja yang tertangkap.

Tiba-tiba mataku berhenti berlayar, dan berlabuh di antara dua orang tuna netra yang kurasa adalah sepasang suami-istri. Umur mereka bisa dibilang masih paruh baya, bergandeng menyusur peron. Si wanita berjalan di belakang lelaki, sang lelaki mamandunya. Mereka tersenyum. Aku masih memperhatikan. Lama-lama aku ingin tahu bagaimana perasaan mereka, bagaimana cerita cinta mereka. Tunggu, cinta? Bahkan mereka punya cinta.

‘Sang nahkoda mengajakku berlayar. Kita sama-sama tak bersayap, tapi akan kupinjamkan tanganku agar kita berjalan bersama.’

Kau mengiyakan, meskipun samar wajah itu tergambar di sela matamu yang celahnya kian menyipit, sempit. Kau seperti pelaut yang tak mengerti rasi bintang, yang menggantungkan hidup kepada nahkoda yang juga tak memiliki peta.

‘Kubilang ku cinta dia. Dia mengangguk malu. Aku sadar bagaimana diriku, siapa aku, lalu haruskah aku menominasi dan mengajukan persyaratan baginya? Kupikir aku tidak layak untuk sekedar itu. Tapi satu yang pasti, kurasa kucintai dia. Kalau orang bertanya, bagaimana bisa aku mencintai sedangkan warna daun pun aku tak tahu pasti. Kujawab saja, hatiku berbisik bahwa kanan di sana dan kiri di sini, ini boleh diinjak dan itu jurang, di depan tiang dan di samping tangga, kepada siapa lagi aku bisa mengandalkan jika tidak kepada hati?’

Mereka masih di peron stasiun, sesekali bercanda, berpegang tangan, saling memandang dengan hati yang memancarkan cinta.

Aku di sini, menonton drama mereka. Sungguh, aku butuh remote agar bisa kupindah channel ini. Cukup! Kalian mengusik hatiku yang sedang tertidur.

7 Juni 2009, Peron Stasiun UI.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s